Strategi Cerdik Raden Wijaya Menghancurkan Kediri dan Mengusir Mongol dari Tanah Jawa

Strategi Cerdik Raden Wijaya Menghancurkan Kediri dan Mengusir Mongol dari Tanah Jawa

4,5
(25)

Sejarah berdirinya Kerajaan Majapahit tak lepas dari drama pengkhianatan, taktik cerdik, dan pertempuran besar yang melibatkan kekuatan adidaya dunia masa itu: Kekaisaran Mongol. Di balik runtuhnya Kerajaan Kediri, terdapat persekutuan unik antara pasukan Mongol, Raden Wijaya, dan Arya Wiraraja yang berakhir dengan plot tak terduga.

1. Aliansi Taktis Menghancurkan Kediri

Kehancuran Kerajaan Kediri bermula dari ambisi Jayakatwang yang mengakhiri kekuasaan Singasari. Raden Wijaya, menantu Kertanegara, melihat peluang untuk membalas dendam dengan memanfaatkan kedatangan tentara Tartar (Mongol) yang dikirim oleh Kublai Khan.

Bekerja sama dengan Arya Wiraraja dari Madura, Raden Wijaya meyakinkan pasukan Mongol bahwa Jayakatwang adalah musuh yang harus ditundukkan. Gabungan tiga kekuatan ini—Mongol, pasukan Wijaya, dan pasukan Madura—berhasil menyerbu Daha (pusat Kediri) dan menghancurkan kekuasaan Jayakatwang.

2. Siasat "Pamit Pulang" di Tengah Pesta Kemenangan

Setelah kemenangan besar atas Kediri, pasukan Mongol merayakannya dengan pesta pora yang luar biasa. Di tengah kegembiraan tersebut, Raden Wijaya menjalankan langkah licik yang telah disusun bersama Arya Wiraraja.

Raden Wijaya meminta izin kepada pimpinan Mongol untuk kembali ke Desa Tarik. Alasannya sangat diplomatis: ia ingin mempersiapkan diri dan menyiapkan upeti sebagai bentuk penyerahan diri secara resmi kepada Kekaisaran Mongol. Tanpa rasa curiga, pimpinan Mongol memberikan izin dan bahkan mengutus ratusan prajurit untuk mengawal rombongan Raden Wijaya sebagai bentuk kehormatan.

3. Penumpasan Pertama: Peran Sora dan Ranggalawe

Berdasarkan catatan sejarah Cina dan literatur seperti "Sandyakala di Timur Jawa", perjalanan pulang tersebut hanyalah jebakan maut. Setibanya di wilayah yang jauh dari pengawasan utama, Raden Wijaya memerintahkan pasukannya untuk menghabisi para pengawal Mongol.

Dua panglima perang legendaris, Sora dan Ranggalawe, memimpin aksi pembersihan ini. Sebanyak 200 prajurit Mongol yang mengawal mereka tewas seketika. Dengan hilangnya penghalang ini, Raden Wijaya kini bebas menyusun serangan balik ke markas utama musuh.

4. Serangan Balik Saat Musuh Terbuai

Pasukan Mongol yang masih berada dalam euforia kemenangan sama sekali tidak menduga akan dikhianati oleh sekutunya sendiri. Raden Wijaya segera menggerakkan pasukan yang lebih besar menuju markas utama Mongol.

Poin Utama Serangan:

• Unsur Kejutan: Menyerang saat pasukan Mongol sedang mabuk dan tidak bersiaga.

• Serangan Gabungan: Melibatkan sisa-sisa pasukan Jawa dan pasukan Madura kiriman Arya Wiraraja.

• Taktik Gerilya: Raden Wijaya tidak langsung menyerang secara frontal di satu titik, melainkan mengacaukan formasi musuh secara bertahap.

5. Pelarian Tragis Tentara Mongol

Kekacauan di markas utama memaksa tentara Mongol mundur dalam kondisi kocar-kacir. Mereka yang selamat berusaha melarikan diri menuju kapal-kapal di pesisir. Namun, pengejaran tidak berhenti di situ. Di wilayah sekitar sebuah candi, mereka kembali disergap oleh pasukan Jawa yang sudah menunggu.

Akibat dari strategi cerdik ini:

• Kehilangan Rampasan Perang: Semua harta dan jarahan yang didapat dari Kediri terpaksa ditinggalkan.

• Korban Jiwa Masif: Ribuan tentara Mongol tewas dalam pelarian.

• Pengusiran Permanen: Sisa pasukan Mongol akhirnya angkat kaki dari Pulau Jawa demi menyelamatkan nyawa mereka sendiri.

• Keberhasilan mengusir kekuatan militer terkuat dunia pada abad ke-13 ini menjadi fondasi kokoh bagi Raden Wijaya untuk menasbihkan dirinya sebagai raja pertama Majapahit, kerajaan terbesar di Nusantara.

0 Komentar